Hanya Stress Atau Benar-benar Depresi..

Pernah satu ketika daku membuat pengakuan terbuka pada beberapa orang kawan rapat tentang depresi yang melanda diri. Antara respon mereka, ada yang cuba menasihati, ada yang sekadar mengiyakan, ada yang bertanya dan ada juga yang benar-benar prihatin.

“Banyakkan berzikir, Raha. Ingat Allah. Jangan bersendirian nanti dihasut syaitan”

“Oh iye? Tak nampak macam Raha ada depression pun”

“Raha OK? Banyak fikir ke ni?”

“Raha jangan bersendirian OK. Cari kitorang bila rasa ada masalah. Kalau rasa tak boleh sangat, cepat pergi hospital”

Its okay.. Sekurang-kurangnya mereka memberi respon dan membalas mesejku. I was diagnosed by psychiatrist, bukan suka-suka mengaku depresi.

Satu perkara yang paling ketara ialah kadang-kadang diri sendiri pun tak perasan yang emosi sedang terganggu dan stress. Biasanya nanti susah nak tidur, sakit-sakit badan, perut bloating, rasa ketengangan di kawasan tengkuk dan juga period kelewatan. Pernah lewat sampai 2 minggu pun. Dan pastinya, jerawat naik dengan meriah di muka.

Kalau diri sendiri pun kadang tak perasan, atau sebenarnya dah imun dengan ‘rasa’ depresi tu apetah lagi kawan-kawan. Zaman serba serbi canggih ni biasanya kita ambil tahu hal sekeliling kita dengan hanya dari media sosial. Apa yang kawan kita update, itulah yang kita terima dan percaya. Ataupun hanya berbual gembira di dalam whatsapp group. Bukan nampak muka pun kan. Thats why I said depression has no face.

Usually, by the time I realize that I am actually emotionally depressed is when I started to get easily annoyed and irritated even by smallest issue in the world. Kadang-kadang terkena juga tempiasnya pada si anak. Kesian sangat tengok muka si anak bila dia tak tahu macam mana nak respon pada emosi turun naik maknya ni.

Tapi Allah Maha Baik.

Asbab anak ini juga daku sedaya upaya mengawal emosi sendiri. Insya Allah setakat ni kasih sayang terhadap si anak berjaya mengatasi semuanya. Stress masih mampu di lipat kemas dan disorok di lubuk hati paling dalam bila si anak memerlukan maknya. Sebab tu juga Allah beri anak yang clingy ni supaya maknya tak berapa nak ada masa memikirkan pasal emosi yang menentu.

Why am I writing all this? Macam membuka pekung di dada rasanya. Atau sekadar meminta simpati. Taklah.. sebenarnya saat menaip setiap patah perkataan ini terasa seperti ada sedikit perasaan lega sebab dapat meluahkannya. Even its only just 1% of it. Umpama sebutir pasir dari timbunan pasir yang besar terbang dibawa angin.

Terima kasih sebab sudi baca sampai habis. and I would appreciate very much if you share this or any article about depression from my blog to anyone you know who had depression. Just to remind them that they are not alone.

mamavogue

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge